Powered By Blogger

Selasa, 26 April 2011

Himasylva Unila Demo Peringati Hari Bumi


TRIBUNLAMPUNG.CO.ID/MARZULI
Sabtu, 23 April 2011 | 11:47 WIB
Laporan Wartawan Tribunlampung.co.id Marzuli Ariwibowo
BANDAR LAMPUNG , TRIBUNLAMPUNG.CO.ID - Sekitar 100 orang yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Jurusan Kehutanan Universitas Lampung (Himasylva Unila), menggelar aksi demonstrasi memperingati Hari Bumi, Sabtu (23/4/2011).

Demo  dimulai pukul 09.00 WIB, dengan aksi long march dari Plaza Pos Tanjungkarang sampai Tugu Adipura. Beberapa peserta aksi ada yang mengusung replika bola dunia, yang menggambarkan saat ini bumi sudah benar-benar hancur.

Koordinator lapangan Melisa Yurestika yang juga Ketua umum Hymasilva mengatakan, aksi juga digelar untuk memberitahukan kepada masyarakat Bandar Lampung tentang kondisi bumi yang sangat memprihatinkan.

"Bertepatan dengan Hari Bumi, kami mengingatkan kepada masyarakat luas agar bersama-sama menyelamatkan bumi," tegas Melisa. (*)
sumber: http://lampung.tribunnews.com/read/artikel/26630

harbum himasylva

Bandar Lampung, Sekitar 100 orang mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Kehutanan Fakultas Pertanian Unila (Himasylva) melakukan aksi unjuk rasa dalam rangka memperingati hari bumi. Pada 22 April 2009 pukul 10.00-11.30 di tugu Adi Pura (Bunderan Gajah), , ,. Adapun kronologi kegiatan AUR tersebut adalah :
1. Dalam aksinya para pengunjuk rasa melakukan long march dari depan Palza Pos
menuju Bunderan Gajah, melalui Jl. Radin Intan. Dalam aksinya, mereka membawa
replika bola dunia, spanduk bertuliskan “Satukan Tekad, Selamatkan Bumi Untuk
Masa Depan”, dan beberapa poster diantaranya bertuliskan Stop global warming,
selamatkan bumi, cegah banjir dan longsor. Para pengunjuk rasa juga melakukan
aksi teatrikal untuk menyelamatkan bumi.
2. Yudha (Koordinator Aksi) dalam orasinya menyatakan, bumi tempat kita hidup sudah
mengalami banyak kerusakan yang ditandai dengan adanya :
a. Mencairnya gunung es di kutub utara dan selatan.
b. Efek rumah kaca.
c. Perubahan iklim yang ekstrim
d. Gelombang panas yang semakin ganas
e. Meningkatnya permukaan air laut
3. Syahri Agustian (Ketua Umum Himasylva Lampung), mengajak masyarakat untuk:
a. Peduli terhadap lingkungan sekitar.
b. Hemat energi, air dan sumber daya alam.
c. Penghijauan lahan sekitar kita
4. Farid (Sekjen Himasylva Indonesia) menyatakan :
a. Aksi damai ini merupakan agenda nasional yang juga dilakukan Himasylva
diseluruh Indonesia.
b. Issu yang diangkat adalah 6H yaitu :
1) Hemat Air
2) Hemat listrik
3) Hemat kertas
4) Hemat Minyak bumi dan energi
5) Hijaukan lahan di sekitar kita
6) Harus beri contoh yang baik.

Catatan :
1. AUR yang sudah menjadi agenda tetap Himasylva setiap tahunnya merupakan salah
satu wujud implementasi mahasiswa untuk menyampaikan aspirasinya kepada
pemerintah dalam memecahkan masalah yang muncul untuk mencari penyelesaiannya.
2. AUR berjalan aman, tertib dan kondusif. (Doddi)

keren

data luas hutan 2011

http://alamendah.wordpress.com/2011/01/05/luas-hutan-indonesia-di-tiap-provinsi/
http://id.shvoong.com/lifestyle/home-and-garden/2126078-luas-hutan-indonesia-menyempit/
http://artikelterbaru.com/kehutanan/luas-hutan-di-indonesia-2011399.html
http://www.dephut.go.id/index.php?q=id/node/1314
http://bksdakalteng.dephut.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=138:95-hektar-hutan-kalteng-rusak-seruyan-paling-tinggi&catid=40:ekosistem&Itemid=63

aslm,., maaf ya,.,.

aslm,., maaf ya,.,
untuk temen2 yang baca dan tidak baca blog ini, saya minta maaf,.,
mungkin ada salah yang sengaja saya lakukan atau tidak sengaja selam ini,  jika suatu hari nanti terjadi apa apa pada diri saya, yang tidak kita inginkan saya sudah minta maaf, saya selalu menyayangi kalian, saya pasti banyak salah sama kalin, mungkin lewat ini saya bisa minta maaf sama kalian,., sekali lagi saya minta maaf,.,.

hari bumi

tanggal 26 April 2011

salam lestari,.,.

selamat hari bumi bagi yang mencintai bumi,.,
bumi kita semakin rusak, semakin panas semakin tidak nyama, ini dikarenakan pemanasan global, jadi apa yang harus kita lakukan untuk bumi yang kita injak ini,.,? yang pertama penghijauan hutan, menggunakan listrik sehemat mungkin, membuang sampah pada tempatnya, menggunakan bahan2 organik dan anorganik kembali, mengurangi atau menghemat penggunaan kertas.,., yang paling utama adalah bagaimana kita  mengembalikan kondisi alam kita atau hutan kita seperti sebelumnya, kalau mengembalikan seperti dalam keadaan semula tidak mudah, tapi ada sedikit yang bisa kita lakukan yaitu, menanam sati pohon setiap orang, karena dengan kita menanam pohon kita sudah menyumbangkan tumbuhan yang mampu menghasilkan oksigen yang kita hirup setiap saat untuk anak cucu kita nanti, bayangkan konisi alam kita sekarang, bayangkan 70 tahun yang akan datang setelah kita sudah menjadi manula yang hanya bisa berbaring tidak bisa lagi berbuat apa apa, anak cucu kita yang harus menanggung semua yang kita lakukan sekarang, bayangkan jika kita hidup di masa itu,.,.!!! alangkah berdosanya kita,.,.!!!
INGAT,.,!!! HUTAN BUKANLAH WARISAN NENEK MOYANG KITA, TETAPI HUTAN ADALAH TITIPAN ANAK CUCU KITA
By. sapariyanto ( mas ari)

Sabtu, 16 April 2011

mas ari 70





















laporan habitus pohon





I.     PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Habitus merupakan istilah biologi yang berarti tindakan naluriah (instinktif) hewan atau kecendeungan alamiah bentuk suatu tumbuhan.  Habitus pohon merupakan bentuk kehidupan suatu golongan hewan atau tumbuhan, habitus adalah perawakan tumbuhan atau wujud bentuk fisik tumbuhan secara keseluruhan. Habitus juga dapat diartikan sebagai bentuk fisik tumbuhan Adapun habitus pohon atau perawakan pohon diartikan sebagai wujud bentuk fisik pohon secara keseluruhan, hal ini menggambarkan mengenai keseluruhan morfus dalam system organ pohon.  Habitus pohon merupakan gambaran penampilan umum atau arsitektur suatu tumbuhan, sebagai contoh akasia yang berhabitus pohon. Salah satu contoh bentuk atau perawakan habitus pohon adalah bentuk pohon, ukuran pohon, tinggi pohon, bentuk tajuk pohon, bentuk kulit batang dan warna umum pohon.

B.  Tujuan Praktikum
Adapun dalam praktikum tentang habitus pohon ini, mahasiswa yang melakukan pratikum diharapkan mampu untuk:
1.      Mampu mengelompokkan phon ke dalam beberapa kategori ukuran pada saat pohon tersebut mencapai fase dewasa.
2.      Mampu menentukan bentuk utama tajuk pohon dan tekstur pohon bagi setiap jenis pohon yang diamati.

C.   Lokasi Praktikum
Praktikum mengenai habitus pohon dilakukan di depan camp rimbawan disudut lapangan tenis lapangan jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Lampung.



II.  METODE PRAKTIKUM

A.  Alat dan bahan
Alat-alat  dan bahan  yang diperlukan untuk praktikum habitus pohon ini adalah lembar pengamatan, buku gambar, pensil, pena, meteran, christen hyipsometer, dan  kamera.  Sedangkan bahan atau pohon yang digunakan meliputi spesimen dari Akasia (Acacia auriculiformis).

B.  Cara Kerja
Prosedur yang digunakan dalam praktikum tentang habitu pohon adalah sebagai berikut:
1.      Mencari pohon yang sudah ditentukan.
2.      Mengambil gambar pohon tersebut secara penuh dengan kamera.
3.      Mengukur tinggi pohon dengan christen hyipsometer, dan menetapkan klas ukuran pohon. Dan menggunakan alat bantu berupa galah atau tongkat yang panjangnya 2 m atau 3 m.
4.      Meletakkan galah pembantu pada pohon yang akan diukur tinggi, kemudian memegang christen hyipsometer pada posisi vertical dengan angka nol pada skala alat berada skala alat berada pada bagian atas.  Membidik pangkal batang pohon dan membidik ujung pohon atau tajuk pohon dengan menggunakan christen hyipsometer.
5.      Menggambar engan pensil pada buku gambar mengenai bentuk tajuk pohon yang diamati.
6.      Mengamati pohon mengenai tekstur dan warna pohon kemudian mencatat hasilnya pada lembar pengamatan.






III.   HASIL DAN PEMBAHASAN

A.  Hasil pengamatan
Dari pratikum mengenai habitus pohon diperoleh data hasil pengamatan sebagai berikut.
Tabel 1. Data pengamatan kategoi ukuran pohon, bentuk tajuk pohon, tekstur pohon,dan  warna pohon.
No
Jenis pohon
Ukuran pohon
Bentuk tajuk pohon
Tekstur pohon
Warna pohon

1


Akasia
(Acacia auriculiformis)


Sedang



Tidak beraturan


kasar



Hijau kekuningan












Gambar 1. Bentuk batang pohon akasia (Acacia auriculiformis)















Gambar 2. Bentuk peenuh badan pohon dan tajuk pohon akasia (Acacia
auriculiformis)

B.  Pembahasan
Dari pratikum yang dilakukan dapat diperoleh hasil seperti pada data di atas, pada pratikum ini pohon akasia yang letaknya di sudut lapangan tenis lapangan.  Untuk ukuran keliling pohon yang diamati sangat besar dan ukuran kelilingnya 204 cm, pengukuran kelilig ini menggunakan pita meter kemudian dirubah menjadi diameter rumusnya adalah =  =  = 26 cm, jadi  pohon akasia adalah 26 cm, dan umur pohon akasia yang diamati sudah sangat tua dengan melihat diameter dan bentuk tajuknya.  Bentuk tajuk pohon tidak beraturan ini dikarenakan usia ohon yang sudah terlalu tua sehingga pada pecabangannya banyak yang sudah mati dan kering shingga bentuk tajuknya sudah tidak terlihat jelas atau tidak beraturan seperti halnya tajuk pohon akasia yang masih muda.  Tekstur pohon yang dilihat dari pangkal banir sampai ujung tajuk yang namanya kanopi bertekstu  kasar yang paling terlihat kasarnya adalah pada bagian kulit batang yang seperti terbelah – belah, untuk warna pohon yang diamati berwarna hijau kekuningan, dan tinggi pohon akasia yang damati yaitu 14 meter, pohon ini termasuk pohon sedang yaitu pohon – pohon yang pada fase dewasanya setinggi 9,144 m – 18,288 m atau 30 feat. Pengukuran tinggi pohon menggunakan alat yang namanya christen hyipsometer 3 meter dan menggunakan alat bantu yaitu galah, tapi pada pengamatan ini galah diganti dengan plastic yang diikat pada pohon setinggi 3 meter dari atas banir tujuannya untuk melihat skala yang didapat dari pengukuran menggunakan christen hyipsometer.

Pada lembar laporan sementara ada kesalahan data yang pertama untuk diameter kalau pada laporan sementara diameternya 204 cm, padahan 26 cm pada laporan sementara 204 cm itu masih keliling pohon dan belum dibagi dengan 3,14 yang akan dirubah menjadi diameter, yang kedua ukuran pohon pada laporan sementara ukuran pohonnya besar padahal ketika dibandingkan dengan buku panduan pratikum fase pohon yang diamati termasuk fase pohon sedang dengan diameter 26 cm dan tinggi 14 meter.

Keterangan gambar 1. Yaitu gambar yang diambil dari kamera yaitu gambar bentuk dan kondisi batang pohon akasia (Acacia auriculiformis), terlihat jelas  pada bagian kulit batang pohon akasia (Acacia auriculiformis) yang kasar dan terlihat seperti terbelah – belah, dan juga pada bagian percabangan paling bawah sudah terdapat tunas – tunas ranting yang banyak dan rapat, ini dikarenakan pada cabang paling bawa cabangnya sudah mati sehingga pada bagian pangkal cabang yang masih hidup tumbuh ranting – ranting baru dan terlihat subur.  Untuk bentuk badan pohon yang terlihat pada gambar 2. Pohon akasia ini cukup tinggi hingga mencapai 14 meter dan sedikit condong kekanan, bentuk tajuknya pada gambar terlihat elips tapi ketika pengamatan tajuknya tidak beraturan dan hanya pada bagian atas pohon yang masih sedikit berbentuk tajuknya, tetap pada umumnya pohon yang diamati tajuknya tidak jelas.

Dan warnanya terlihat berwarna hijau, tetapi ketika melakukan pengamatan warnanya sedikit kekuningan atau berwarna hijau kekuningan.





IV.   KESIMPULAN DAN SARAN

A.  Kesimpulan
1.      Pohon yang diamati memiliki ukuran poho yang sedang atau berdiameter 26 cm, memiliki ukuran yang sedang karena pohon ini sudah berumur tua.
2.      Tajuk pohon akasia yang diamati bentuknya tudak beraturan, karena pohon akasia yang diamati sudah terlalu tua dan banyak percabangan – percabangan yang sudah mati dan kerng sehingga bentuk tajuknya sudah tidak terlihat jelas atau tudak beraturan.

B.  Saran
Untuk saran pada pratikum kali ini adalah sebagai berikut:
1.      Untuk pratikan diharapkan lebih kondusip dalam mengikuti pratikum.

 



DAFTAR PUSTAKA

Indriyanto, 1998, Panduan Pratikum Dendrologi, Bandar Lampung,universitas
Lampung
Samingan,Tj.1982.Dendrologi.Jakarta:Gramedia.





data 2010

Luas Hutan Indonesia di Tiap Provinsi

Luas hutan Indonesia di tiap provinsi ini merupakan data luas hutan yang terdapat di masing-masing provinsi di Indonesia. Luas seluruh hutan di Indonesia adalah 133.300.543,98 ha. Ini mencakup kawasan suaka alam, hutan lindung, dan hutan produksi.
Provinsi dengan luas hutan terbesar adalah gabungan provinsi Papua dan Papua Barat dengan 40,5 juta ha. Disusul oleh provinsi Kalimantan Tengah (15,3 juta ha), dan Kalimantan Timur (14,6 juta ha). Sedangkan provinsi di Indonesia dengan luas hutan tersempit adalah DKI Jakarta (475 ha).
Data luas hutan Indonesia ini merupakan data de yure, data di atas kertas berdasarkan SK Penunjukan Kawasan Hutan dan Perairan Provinsi yang dikeluarkan oleh Menteri Kehutanan. Mengenai jumlah riil luas hutan di lapangan kemungkinan dapat berbeda. Hal ini lantaran beberapa SK penunjukan dikeluarkan sejak lebih dari sepuluh tahun yang silam, bahkan luas hutan di provinsi Kalimantan Tengah telah dikeluarkan sejak tahun 1982 dan sepertinya belum direvisi ulang.
Berikut data luas hutan di tiap provinsi di Indonesia beserta SK Penunjukan Kawasan Hutan dan Perairan Provinsi yang dikeluarkan oleh Menteri Kehutanan.
  1. Nangroe Aceh Darussalam (SK No. 170/Kpts-II/00); 3.335.713,00 ha;
  2. Sumatera Utara (SK No. 44/Menhut-II/05); 3.742.120,00 ha;
  3. Sumatera Barat (SK No. 422/Kpts-II/99); 2.600.286,00 ha;
  4. Riau (SK No. 173/Kpts-II/1986); 9.456.160,00 ha;
  5. Kepulauan Riau (data masih bergabung dengan provinsi Riau)
  6. Jambi (SK. No. 421/Kpts-II/99); 2.179.440,00 ha;
  7. Bengkulu (SK. No. 420/Kpts-II/99); 920.964,00 ha;
  8. Sumatera Selatan (SK No. 76/Kpts-II/01); 3.742.327,00 ha;
  9. Bangka Belitung (SK No. 357/Menhut-II/04); 657.510,00 ha;
  10. Lampung (SK No. 256/Kpts-II/00); 1.004.735,00 ha;
  11. DKI Jakarta (SK No. 220/Kpts-II/00); 475,45 ha;
  12. Jawa Barat (SK No. 195/Kpts-II/03); 816.602,70 ha;
  13. Banten; 201.787,00 ha;
  14. Jawa Tengah (SK No. 359/Menhut-II/04); 647.133,00 ha;
  15. DI. Yogyakarta (SK No. 171/Kpts-II/00); 16.819,52 ha;
  16. Jawa Timur (SK No. 417/Kpts-II/99); 1.357.206,30 ha;
  17. Bali (SK No. 433/Kpts-II/99); 127.271,01 ha;
  18. Nusa Tenggara Barat (SK No. 598/Menhut-II/2009); 1.035.838,00 ha;
  19. Nusa Tenggara Timur (SK No. 423/Kpts-II/99); 1.555.068,00 ha;
  20. Kalimantan Barat (SK No. 259/Kpts-II/00); 9.101.760,00 ha;
  21. Kalimantan Tengah (SK No. 759/Kpts/Um/10/82); 15.300.000,00 ha;
  22. Kalimantan Timur (SK No. 79/Kpts-II/01); 14.651.053,00 ha;
  23. Kalimantan Selatan (SK No. 435/Menhut-II/2009); 1.566.697,00 ha;
  24. Sulawesi Utara (SK No. 452/Kpts-II/99); 725.514,00 ha;
  25. Gorontalo (SK No. 325/Menhut-II/2010); 647.668,00 ha;
  26. Sulawesi Tengah (SK No. 757/Kpts-II/99); 4.394.932,00 ha;
  27. Sulawesi Tenggara; (SK No. 454/Kpts-II/99); 2.518.337,00 ha;
  28. Sulawesi Selatan (SK No. 434/Menhut-II/2009); 2.118.992,00 ha;
  29. Sulawesi Barat (SK No. 890/Kpts-II/99); 1.185.666,00 ha;
  30. Maluku (SK No. 415/Kpts-II/99); 7.146.109,00 ha;
  31. Maluku Utara (data masih bergabung dengan provinsi Maluku)
  32. Papua (SK No. 891/Kpts-II/99); 40.546.360,00 ha;
  33. Papua Barat (data masih bergabung dengan provinsi Papua)
Sekali lagi data ini kemungkinan besar bukan luas riil hutan di Indonesia. Dengan SK penunjukkan kawasan hutan yang dikeluarkan beberapa tahun lalu ini tentunya tidak mencakup berbagai kerusakan hutan yang terjadi akibat kebakaran hutan, pembalakan liar, maupun berbagai alih fungsi hutan lainnya. Semoga luas hutan di Indonesia yang mencapai 133 juta hektar ini tidak terlalu jauh berbeda dengan kenyataan di lapangan.
Dan yang paling penting, luas hutan di masing-masing provisi di Indonesia ini selalu lestari sebagai warisan tak ternilai untuk anak cucu kita.
  • Referensi: Buku Data dan Informasi Pemanfaatan Hutan Tahun 2010; Direktorat Jendral Planologi Kehutanan, Kementerian Kehutanan; November 2010.

ekosistem hutan

Ekosistem adalah kesatuan komunitas dan lingkungannya yang membentuk suatu hubungan timbal balik di antara komponen-komponennya. Komponen suatu ekosistem mencakup seluruh makhluk hidup dan makhluk tidak hidup yang terdapat di dalamnya. Ekosistem adalah hubungan antara kumpulan beberapa populasi disuatu tempat yang mengadakan interaksi, baik secara langsung maupun tidak langsung dengan lingkungan abiotik dan hubungannya adalah timbal balik.
Hutan adalah masyarakat tumbuh-tumbuhan dan binatang yang hidup dalam lapisan dan di permukaan tanah dan terletak pada suatu kawasan, serta membentuk suatu kesatuan ekosistem yang berada dalam keseimbangan dinamis.
Ekosistem Hutan adalah hubungan antara kumpulan beberapa populasi baik itu binatang dan tumbuh-tumbuhan yang hidup dalan lapisan dan dipermukaan tanah dan terletak pada suatu kawasan serta membentuk suatu kesatuan ekosistem yang berada dalam keseimbangan yang dinamis yang mengadakan interaksi baik secara langsung maupun tidak langsung dengan lingkungannya dan antara yang satu dan yang lainnya tidak dapat dipisahkan.
Undang-Undang No 41 tahun 1999 tentang Kehutanan, mendefinisikan hutan sebagai suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumberdaya alam hayati yang didominasi jenis pepohonan dalam persekutuan dengan lingkungannya, yang satu dengan lain tidak dapat dipisahkan.
Hutan merupakan suatu masyarakat tumbuh-tumbuhan dan hewan yang hidup dalam lapisan dan permukaan tanah, yang terletak pada suatu kawasan dan membentuk suatu ekosistem yang berada dalam keadaan keseimbangan dinamis.




Dengan demikian berarti berkaitan dengan proses-proses yang berhubungan yaitu:
  1. Hidrologis, artinya hutan merupakan gudang penyimpanan air dan tempat menyerapnya air hujan maupun embun yang pada akhirnya akan mengalirkannya ke sungai-sungai yang memiliki mata air di tengah-tengah hutan secara teratur menurut irama alam. Hutan juga berperan untuk melindungi tanah dari erosi dan daur unsur haranya.
  2. Iklim, artinya komponen ekosistern alam yang terdiri dari unsur-unsur hujan (air), sinar matahari (suhu), angin dan kelembaban yang sangat mempengaruhi kehidupan yang ada di permukaan bumi, terutama iklim makro maupun mikro.
  3. Kesuburan tanah, artinya tanah hutan merupakan pembentuk humus utama dan penyimpan unsur-unsur mineral bagi tumbuhan lain. Kesuburan tanah sangat ditentukan oleh faktor-faktor seperti jenis batu induk yang membentuknya, kondisi selama dalam proses pembentukan, tekstur dan struktur tanah yang meliputi kelembaban, suhu dan air tanah, topografi wilayah, vegetasi dan jasad jasad hidup. Faktor-faktor inilah yang kelak menyebabkan terbentuknya bermacam-macam formasi hutan dan vegetasi hutan.
  4. Keanekaan genetik, artinya hutan memiliki kekayaan dari berbagai jenis flora dan fauna. Apabila hutan tidak diperhatikan dalam pemanfaatan dan kelangsungannya, tidaklah mustahil akan terjadi erosi genetik. Hal ini terjadi karena hutan semakin berkurang habitatnya.
  5. Sumber daya alam, artinya hutan mampu memberikan sumbangan hasil alam yang cukup besar bagi devisa negara, terutama di bidang inciustri. Selain itu hutan juga memberikan fungsi kepada masyarakat sekitar hutan sebagai pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Selain kayu juga dihasilkan bahan lain seperti damar, kopal, gondorukem, terpentin, kayu putih dan rotan serta tanaman obat-obatan.
  6. Wilayah wisata alam, artinya hutan mampu berfungsi sebagai sumber inspirasi, nilai estetika, etika dan sebagainya. 

Hutan Rawa
Hutan rawa adalah hutan yang berada di daerah berawa dengan tumbuhan nipah tumbuh di hutan rawa. Contoh : Papua selatan, Kalimantan, dsb.

Hutan mangrove merupakan suatu tipe hutan yang tumbuh di daerah pasang surut, terutama di pantai yang terlindung, laguna dan muara sungai yang tergenang pada saat pasang dan bebas dari genangan pada saat surut yang komunitas tumbuhannya bertoleransi terhadap garam (Kusmana et al, 2003). Kata mangrove merupakan kombinasi antara bahasa Portugis ”Mangue” dan bahasa Inggris ”grove” (Macnae, 1968 dalam Kusmana et al, 2003). Dalam bahasa inggris kata mangrove digunakan baik untuk komunitas tumbuhan yang tumbuh di daerah jangkauan pasang surut maupun untuk individu-individu jenis tumbuhan yang menyusun komunitas tersebut.
Hutan mangrove dikenal juga dengan istilah tidal forest, coastal woodland, vloedbosschen dan hutan payau (bahasa Indonesia). Selain itu, hutan mangrove oleh masyarakat Indonesia dan negara Asia Tenggara lainnya yang berbahasa Melayu sering disebut dengan hutan bakau. Penggunaan istilah hutan bakau untuk hutan mangrove sebenarnya kurang tepat dan rancu, karena bakau hanyalah nama lokal dari marga Rhizophora, sementara hutan mangrove disusun dan ditumbuhi oleh banyak marga dan jenis tumbuhan lainnya. Oleh karena itu, penyebutan hutan mangrove dengan hutan bakau sebaiknya dihindari (Kusmana et al, 2003).
Mangrove tersebar di seluruh lautan tropik dan subtropik, tumbuh hanya pada pantai yang terlindung dari gerakan gelombang; bila keadaan pantai sebaliknya, benih tidak mampu tumbuh dengan sempurna dan menjatuhkan akarnya. Pantai-pantai ini tepat di sepanjang sisi pulau-pulau yang terlindung dari angin, atau serangkaian pulau atau pada pulau massa daratan di belakang terumbu karang di lepas pantai yang terlindung (Nybakken, 1998).