Powered By Blogger

Sabtu, 16 April 2011

mas ari 70





















laporan habitus pohon





I.     PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Habitus merupakan istilah biologi yang berarti tindakan naluriah (instinktif) hewan atau kecendeungan alamiah bentuk suatu tumbuhan.  Habitus pohon merupakan bentuk kehidupan suatu golongan hewan atau tumbuhan, habitus adalah perawakan tumbuhan atau wujud bentuk fisik tumbuhan secara keseluruhan. Habitus juga dapat diartikan sebagai bentuk fisik tumbuhan Adapun habitus pohon atau perawakan pohon diartikan sebagai wujud bentuk fisik pohon secara keseluruhan, hal ini menggambarkan mengenai keseluruhan morfus dalam system organ pohon.  Habitus pohon merupakan gambaran penampilan umum atau arsitektur suatu tumbuhan, sebagai contoh akasia yang berhabitus pohon. Salah satu contoh bentuk atau perawakan habitus pohon adalah bentuk pohon, ukuran pohon, tinggi pohon, bentuk tajuk pohon, bentuk kulit batang dan warna umum pohon.

B.  Tujuan Praktikum
Adapun dalam praktikum tentang habitus pohon ini, mahasiswa yang melakukan pratikum diharapkan mampu untuk:
1.      Mampu mengelompokkan phon ke dalam beberapa kategori ukuran pada saat pohon tersebut mencapai fase dewasa.
2.      Mampu menentukan bentuk utama tajuk pohon dan tekstur pohon bagi setiap jenis pohon yang diamati.

C.   Lokasi Praktikum
Praktikum mengenai habitus pohon dilakukan di depan camp rimbawan disudut lapangan tenis lapangan jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Lampung.



II.  METODE PRAKTIKUM

A.  Alat dan bahan
Alat-alat  dan bahan  yang diperlukan untuk praktikum habitus pohon ini adalah lembar pengamatan, buku gambar, pensil, pena, meteran, christen hyipsometer, dan  kamera.  Sedangkan bahan atau pohon yang digunakan meliputi spesimen dari Akasia (Acacia auriculiformis).

B.  Cara Kerja
Prosedur yang digunakan dalam praktikum tentang habitu pohon adalah sebagai berikut:
1.      Mencari pohon yang sudah ditentukan.
2.      Mengambil gambar pohon tersebut secara penuh dengan kamera.
3.      Mengukur tinggi pohon dengan christen hyipsometer, dan menetapkan klas ukuran pohon. Dan menggunakan alat bantu berupa galah atau tongkat yang panjangnya 2 m atau 3 m.
4.      Meletakkan galah pembantu pada pohon yang akan diukur tinggi, kemudian memegang christen hyipsometer pada posisi vertical dengan angka nol pada skala alat berada skala alat berada pada bagian atas.  Membidik pangkal batang pohon dan membidik ujung pohon atau tajuk pohon dengan menggunakan christen hyipsometer.
5.      Menggambar engan pensil pada buku gambar mengenai bentuk tajuk pohon yang diamati.
6.      Mengamati pohon mengenai tekstur dan warna pohon kemudian mencatat hasilnya pada lembar pengamatan.






III.   HASIL DAN PEMBAHASAN

A.  Hasil pengamatan
Dari pratikum mengenai habitus pohon diperoleh data hasil pengamatan sebagai berikut.
Tabel 1. Data pengamatan kategoi ukuran pohon, bentuk tajuk pohon, tekstur pohon,dan  warna pohon.
No
Jenis pohon
Ukuran pohon
Bentuk tajuk pohon
Tekstur pohon
Warna pohon

1


Akasia
(Acacia auriculiformis)


Sedang



Tidak beraturan


kasar



Hijau kekuningan












Gambar 1. Bentuk batang pohon akasia (Acacia auriculiformis)















Gambar 2. Bentuk peenuh badan pohon dan tajuk pohon akasia (Acacia
auriculiformis)

B.  Pembahasan
Dari pratikum yang dilakukan dapat diperoleh hasil seperti pada data di atas, pada pratikum ini pohon akasia yang letaknya di sudut lapangan tenis lapangan.  Untuk ukuran keliling pohon yang diamati sangat besar dan ukuran kelilingnya 204 cm, pengukuran kelilig ini menggunakan pita meter kemudian dirubah menjadi diameter rumusnya adalah =  =  = 26 cm, jadi  pohon akasia adalah 26 cm, dan umur pohon akasia yang diamati sudah sangat tua dengan melihat diameter dan bentuk tajuknya.  Bentuk tajuk pohon tidak beraturan ini dikarenakan usia ohon yang sudah terlalu tua sehingga pada pecabangannya banyak yang sudah mati dan kering shingga bentuk tajuknya sudah tidak terlihat jelas atau tidak beraturan seperti halnya tajuk pohon akasia yang masih muda.  Tekstur pohon yang dilihat dari pangkal banir sampai ujung tajuk yang namanya kanopi bertekstu  kasar yang paling terlihat kasarnya adalah pada bagian kulit batang yang seperti terbelah – belah, untuk warna pohon yang diamati berwarna hijau kekuningan, dan tinggi pohon akasia yang damati yaitu 14 meter, pohon ini termasuk pohon sedang yaitu pohon – pohon yang pada fase dewasanya setinggi 9,144 m – 18,288 m atau 30 feat. Pengukuran tinggi pohon menggunakan alat yang namanya christen hyipsometer 3 meter dan menggunakan alat bantu yaitu galah, tapi pada pengamatan ini galah diganti dengan plastic yang diikat pada pohon setinggi 3 meter dari atas banir tujuannya untuk melihat skala yang didapat dari pengukuran menggunakan christen hyipsometer.

Pada lembar laporan sementara ada kesalahan data yang pertama untuk diameter kalau pada laporan sementara diameternya 204 cm, padahan 26 cm pada laporan sementara 204 cm itu masih keliling pohon dan belum dibagi dengan 3,14 yang akan dirubah menjadi diameter, yang kedua ukuran pohon pada laporan sementara ukuran pohonnya besar padahal ketika dibandingkan dengan buku panduan pratikum fase pohon yang diamati termasuk fase pohon sedang dengan diameter 26 cm dan tinggi 14 meter.

Keterangan gambar 1. Yaitu gambar yang diambil dari kamera yaitu gambar bentuk dan kondisi batang pohon akasia (Acacia auriculiformis), terlihat jelas  pada bagian kulit batang pohon akasia (Acacia auriculiformis) yang kasar dan terlihat seperti terbelah – belah, dan juga pada bagian percabangan paling bawah sudah terdapat tunas – tunas ranting yang banyak dan rapat, ini dikarenakan pada cabang paling bawa cabangnya sudah mati sehingga pada bagian pangkal cabang yang masih hidup tumbuh ranting – ranting baru dan terlihat subur.  Untuk bentuk badan pohon yang terlihat pada gambar 2. Pohon akasia ini cukup tinggi hingga mencapai 14 meter dan sedikit condong kekanan, bentuk tajuknya pada gambar terlihat elips tapi ketika pengamatan tajuknya tidak beraturan dan hanya pada bagian atas pohon yang masih sedikit berbentuk tajuknya, tetap pada umumnya pohon yang diamati tajuknya tidak jelas.

Dan warnanya terlihat berwarna hijau, tetapi ketika melakukan pengamatan warnanya sedikit kekuningan atau berwarna hijau kekuningan.





IV.   KESIMPULAN DAN SARAN

A.  Kesimpulan
1.      Pohon yang diamati memiliki ukuran poho yang sedang atau berdiameter 26 cm, memiliki ukuran yang sedang karena pohon ini sudah berumur tua.
2.      Tajuk pohon akasia yang diamati bentuknya tudak beraturan, karena pohon akasia yang diamati sudah terlalu tua dan banyak percabangan – percabangan yang sudah mati dan kerng sehingga bentuk tajuknya sudah tidak terlihat jelas atau tudak beraturan.

B.  Saran
Untuk saran pada pratikum kali ini adalah sebagai berikut:
1.      Untuk pratikan diharapkan lebih kondusip dalam mengikuti pratikum.

 



DAFTAR PUSTAKA

Indriyanto, 1998, Panduan Pratikum Dendrologi, Bandar Lampung,universitas
Lampung
Samingan,Tj.1982.Dendrologi.Jakarta:Gramedia.





data 2010

Luas Hutan Indonesia di Tiap Provinsi

Luas hutan Indonesia di tiap provinsi ini merupakan data luas hutan yang terdapat di masing-masing provinsi di Indonesia. Luas seluruh hutan di Indonesia adalah 133.300.543,98 ha. Ini mencakup kawasan suaka alam, hutan lindung, dan hutan produksi.
Provinsi dengan luas hutan terbesar adalah gabungan provinsi Papua dan Papua Barat dengan 40,5 juta ha. Disusul oleh provinsi Kalimantan Tengah (15,3 juta ha), dan Kalimantan Timur (14,6 juta ha). Sedangkan provinsi di Indonesia dengan luas hutan tersempit adalah DKI Jakarta (475 ha).
Data luas hutan Indonesia ini merupakan data de yure, data di atas kertas berdasarkan SK Penunjukan Kawasan Hutan dan Perairan Provinsi yang dikeluarkan oleh Menteri Kehutanan. Mengenai jumlah riil luas hutan di lapangan kemungkinan dapat berbeda. Hal ini lantaran beberapa SK penunjukan dikeluarkan sejak lebih dari sepuluh tahun yang silam, bahkan luas hutan di provinsi Kalimantan Tengah telah dikeluarkan sejak tahun 1982 dan sepertinya belum direvisi ulang.
Berikut data luas hutan di tiap provinsi di Indonesia beserta SK Penunjukan Kawasan Hutan dan Perairan Provinsi yang dikeluarkan oleh Menteri Kehutanan.
  1. Nangroe Aceh Darussalam (SK No. 170/Kpts-II/00); 3.335.713,00 ha;
  2. Sumatera Utara (SK No. 44/Menhut-II/05); 3.742.120,00 ha;
  3. Sumatera Barat (SK No. 422/Kpts-II/99); 2.600.286,00 ha;
  4. Riau (SK No. 173/Kpts-II/1986); 9.456.160,00 ha;
  5. Kepulauan Riau (data masih bergabung dengan provinsi Riau)
  6. Jambi (SK. No. 421/Kpts-II/99); 2.179.440,00 ha;
  7. Bengkulu (SK. No. 420/Kpts-II/99); 920.964,00 ha;
  8. Sumatera Selatan (SK No. 76/Kpts-II/01); 3.742.327,00 ha;
  9. Bangka Belitung (SK No. 357/Menhut-II/04); 657.510,00 ha;
  10. Lampung (SK No. 256/Kpts-II/00); 1.004.735,00 ha;
  11. DKI Jakarta (SK No. 220/Kpts-II/00); 475,45 ha;
  12. Jawa Barat (SK No. 195/Kpts-II/03); 816.602,70 ha;
  13. Banten; 201.787,00 ha;
  14. Jawa Tengah (SK No. 359/Menhut-II/04); 647.133,00 ha;
  15. DI. Yogyakarta (SK No. 171/Kpts-II/00); 16.819,52 ha;
  16. Jawa Timur (SK No. 417/Kpts-II/99); 1.357.206,30 ha;
  17. Bali (SK No. 433/Kpts-II/99); 127.271,01 ha;
  18. Nusa Tenggara Barat (SK No. 598/Menhut-II/2009); 1.035.838,00 ha;
  19. Nusa Tenggara Timur (SK No. 423/Kpts-II/99); 1.555.068,00 ha;
  20. Kalimantan Barat (SK No. 259/Kpts-II/00); 9.101.760,00 ha;
  21. Kalimantan Tengah (SK No. 759/Kpts/Um/10/82); 15.300.000,00 ha;
  22. Kalimantan Timur (SK No. 79/Kpts-II/01); 14.651.053,00 ha;
  23. Kalimantan Selatan (SK No. 435/Menhut-II/2009); 1.566.697,00 ha;
  24. Sulawesi Utara (SK No. 452/Kpts-II/99); 725.514,00 ha;
  25. Gorontalo (SK No. 325/Menhut-II/2010); 647.668,00 ha;
  26. Sulawesi Tengah (SK No. 757/Kpts-II/99); 4.394.932,00 ha;
  27. Sulawesi Tenggara; (SK No. 454/Kpts-II/99); 2.518.337,00 ha;
  28. Sulawesi Selatan (SK No. 434/Menhut-II/2009); 2.118.992,00 ha;
  29. Sulawesi Barat (SK No. 890/Kpts-II/99); 1.185.666,00 ha;
  30. Maluku (SK No. 415/Kpts-II/99); 7.146.109,00 ha;
  31. Maluku Utara (data masih bergabung dengan provinsi Maluku)
  32. Papua (SK No. 891/Kpts-II/99); 40.546.360,00 ha;
  33. Papua Barat (data masih bergabung dengan provinsi Papua)
Sekali lagi data ini kemungkinan besar bukan luas riil hutan di Indonesia. Dengan SK penunjukkan kawasan hutan yang dikeluarkan beberapa tahun lalu ini tentunya tidak mencakup berbagai kerusakan hutan yang terjadi akibat kebakaran hutan, pembalakan liar, maupun berbagai alih fungsi hutan lainnya. Semoga luas hutan di Indonesia yang mencapai 133 juta hektar ini tidak terlalu jauh berbeda dengan kenyataan di lapangan.
Dan yang paling penting, luas hutan di masing-masing provisi di Indonesia ini selalu lestari sebagai warisan tak ternilai untuk anak cucu kita.
  • Referensi: Buku Data dan Informasi Pemanfaatan Hutan Tahun 2010; Direktorat Jendral Planologi Kehutanan, Kementerian Kehutanan; November 2010.

ekosistem hutan

Ekosistem adalah kesatuan komunitas dan lingkungannya yang membentuk suatu hubungan timbal balik di antara komponen-komponennya. Komponen suatu ekosistem mencakup seluruh makhluk hidup dan makhluk tidak hidup yang terdapat di dalamnya. Ekosistem adalah hubungan antara kumpulan beberapa populasi disuatu tempat yang mengadakan interaksi, baik secara langsung maupun tidak langsung dengan lingkungan abiotik dan hubungannya adalah timbal balik.
Hutan adalah masyarakat tumbuh-tumbuhan dan binatang yang hidup dalam lapisan dan di permukaan tanah dan terletak pada suatu kawasan, serta membentuk suatu kesatuan ekosistem yang berada dalam keseimbangan dinamis.
Ekosistem Hutan adalah hubungan antara kumpulan beberapa populasi baik itu binatang dan tumbuh-tumbuhan yang hidup dalan lapisan dan dipermukaan tanah dan terletak pada suatu kawasan serta membentuk suatu kesatuan ekosistem yang berada dalam keseimbangan yang dinamis yang mengadakan interaksi baik secara langsung maupun tidak langsung dengan lingkungannya dan antara yang satu dan yang lainnya tidak dapat dipisahkan.
Undang-Undang No 41 tahun 1999 tentang Kehutanan, mendefinisikan hutan sebagai suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumberdaya alam hayati yang didominasi jenis pepohonan dalam persekutuan dengan lingkungannya, yang satu dengan lain tidak dapat dipisahkan.
Hutan merupakan suatu masyarakat tumbuh-tumbuhan dan hewan yang hidup dalam lapisan dan permukaan tanah, yang terletak pada suatu kawasan dan membentuk suatu ekosistem yang berada dalam keadaan keseimbangan dinamis.




Dengan demikian berarti berkaitan dengan proses-proses yang berhubungan yaitu:
  1. Hidrologis, artinya hutan merupakan gudang penyimpanan air dan tempat menyerapnya air hujan maupun embun yang pada akhirnya akan mengalirkannya ke sungai-sungai yang memiliki mata air di tengah-tengah hutan secara teratur menurut irama alam. Hutan juga berperan untuk melindungi tanah dari erosi dan daur unsur haranya.
  2. Iklim, artinya komponen ekosistern alam yang terdiri dari unsur-unsur hujan (air), sinar matahari (suhu), angin dan kelembaban yang sangat mempengaruhi kehidupan yang ada di permukaan bumi, terutama iklim makro maupun mikro.
  3. Kesuburan tanah, artinya tanah hutan merupakan pembentuk humus utama dan penyimpan unsur-unsur mineral bagi tumbuhan lain. Kesuburan tanah sangat ditentukan oleh faktor-faktor seperti jenis batu induk yang membentuknya, kondisi selama dalam proses pembentukan, tekstur dan struktur tanah yang meliputi kelembaban, suhu dan air tanah, topografi wilayah, vegetasi dan jasad jasad hidup. Faktor-faktor inilah yang kelak menyebabkan terbentuknya bermacam-macam formasi hutan dan vegetasi hutan.
  4. Keanekaan genetik, artinya hutan memiliki kekayaan dari berbagai jenis flora dan fauna. Apabila hutan tidak diperhatikan dalam pemanfaatan dan kelangsungannya, tidaklah mustahil akan terjadi erosi genetik. Hal ini terjadi karena hutan semakin berkurang habitatnya.
  5. Sumber daya alam, artinya hutan mampu memberikan sumbangan hasil alam yang cukup besar bagi devisa negara, terutama di bidang inciustri. Selain itu hutan juga memberikan fungsi kepada masyarakat sekitar hutan sebagai pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Selain kayu juga dihasilkan bahan lain seperti damar, kopal, gondorukem, terpentin, kayu putih dan rotan serta tanaman obat-obatan.
  6. Wilayah wisata alam, artinya hutan mampu berfungsi sebagai sumber inspirasi, nilai estetika, etika dan sebagainya. 

Hutan Rawa
Hutan rawa adalah hutan yang berada di daerah berawa dengan tumbuhan nipah tumbuh di hutan rawa. Contoh : Papua selatan, Kalimantan, dsb.

Hutan mangrove merupakan suatu tipe hutan yang tumbuh di daerah pasang surut, terutama di pantai yang terlindung, laguna dan muara sungai yang tergenang pada saat pasang dan bebas dari genangan pada saat surut yang komunitas tumbuhannya bertoleransi terhadap garam (Kusmana et al, 2003). Kata mangrove merupakan kombinasi antara bahasa Portugis ”Mangue” dan bahasa Inggris ”grove” (Macnae, 1968 dalam Kusmana et al, 2003). Dalam bahasa inggris kata mangrove digunakan baik untuk komunitas tumbuhan yang tumbuh di daerah jangkauan pasang surut maupun untuk individu-individu jenis tumbuhan yang menyusun komunitas tersebut.
Hutan mangrove dikenal juga dengan istilah tidal forest, coastal woodland, vloedbosschen dan hutan payau (bahasa Indonesia). Selain itu, hutan mangrove oleh masyarakat Indonesia dan negara Asia Tenggara lainnya yang berbahasa Melayu sering disebut dengan hutan bakau. Penggunaan istilah hutan bakau untuk hutan mangrove sebenarnya kurang tepat dan rancu, karena bakau hanyalah nama lokal dari marga Rhizophora, sementara hutan mangrove disusun dan ditumbuhi oleh banyak marga dan jenis tumbuhan lainnya. Oleh karena itu, penyebutan hutan mangrove dengan hutan bakau sebaiknya dihindari (Kusmana et al, 2003).
Mangrove tersebar di seluruh lautan tropik dan subtropik, tumbuh hanya pada pantai yang terlindung dari gerakan gelombang; bila keadaan pantai sebaliknya, benih tidak mampu tumbuh dengan sempurna dan menjatuhkan akarnya. Pantai-pantai ini tepat di sepanjang sisi pulau-pulau yang terlindung dari angin, atau serangkaian pulau atau pada pulau massa daratan di belakang terumbu karang di lepas pantai yang terlindung (Nybakken, 1998).


jenis Dipterodarpaceae

Anisoptera grossivenia Sloot.
Anisoptera marginata Korth.
Cotylelobium burkii (Heim) Heim
Dipterocarpus applanatus Sloot.
Dipterocarpus caudiferus Merr.
Dipterocarpus cinereus Sloot.
Dipterocarpus confertus Sloot.
Dipterocarpus geniculatus Vesque ssp. geniculatus
Dipterocarpus littoralis Bl.
Dipterocarpus mundus Sloot.
Dipterocarpus stellatus Vesque ssp. parvus Ashton
Dipterocarpus tempehes Sloot.
Dryobalanops beccarii Dyer
Dryobalanops fusca Sloot.
Dryobalanops keithii Sym.
Dryobalanops lanceolata Burk
Dryobalanops rappa Becc.
Hopea altocollina Ashton
Hopea andersonii Ashton
Hopea aptera Ashton
Hopea bancana (Boerl.) Sloot.
Hopea bullatifolia Ashton
Hopea celebica Burck
Hopea celtidifolia Kosterm.
Hopea centipeda Ashton
Hopea dasyrrachis Sloot.
Hopea enicosanthoides Ashton
Hopea fluvialis Ashton
Hopea inex pectata Ashton
Hopea iriana Sloot.
Hopea megacarpa Ashton
Hopea micrantha Hook.f.
Hopea nigra Burck
Hopea nodosa Sloot.
Hopea novoguineensis Sloot.
Hopea ovoidea Ashton
Hopea papuana Diels
Hopea paucinervis Parijs
Hopea pterygota Ashton
Hopea rudiformis Ashton
Hopea scabra Ashton
Hopea similis Sloot.
Hopea sphaerocarpa (Heim) Ashton
Hopea tenuinervula Ashton
Parashorea aptera Sloot.
Parashorea macrophylla Wyatt-Smith ex Ashton
Parashorea parvifolia Wyatt-Smith ex Ashton
Parashorea smythiesii Wyatt-Smith ex Ashton
Parashorea tomentella (Sym.) Meijer
Shorea agamii Ashton
Shorea albida Sym (ex Thomas)
Shorea amplex icaulis Ashton
Shorea andulensis Ashton
Shorea angustifolia Ashton
Shorea argentifolia Sym.
Shorea asahii Ashton
Shorea beccariana Burck
Shorea brunescens Ashton
Shorea carapae Ashton
Shorea colaris Sloot.
Shorea confusa Ashton
Shorea conica Sloot.
Shorea cordata Ashton
Shorea coriacea Burck
Shorea crassa Ashton
Shorea domatiosa Ashton
Shorea elliptica Burck
Shorea faguetioides Ashton
Shorea fallax Meijer
Shorea ferruginea Dyer ex Brandis
Shorea flaviflora Wood ex Ashton
Shorea foraminifera Ashton
Shorea furfuracea Miq.
Shorea hypoleuca Meijer
Shorea induplicata Sloot.
Shorea leptoderma Meijer
Shorea longiflora (Brandis) Sym.
Shorea macrobalanos Ashton
Shorea macrophylla (De Vriese) Ashton
Shorea mecistopteryx Ridl.
Shorea montigena Sloot.
Shorea myrionerva Sym.ex Ashton
Shorea obovoidea Sloot.
Shorea obscura Meijer
Shorea ochracea Sym.
Shorea ochrophloia (Sym.apud Desh) Strugnell
Shorea pachyphylla Ridl.
Shorea parvistipulata Heim
Shorea patoensis Ashton
Shorea pilosa Ashton
Shorea pinanga Scheff.
Shorea polyandra Ashton
Shorea quadrinervis Sloot.
Shorea retusa Meijer
Shorea richetia Sym.
Shorea rubella Ashton
Shorea rubra Ashton
Shorea rugosa Heim
Shorea sagittata Ashton
Shorea scaberrima Burck
Shorea selanica Bl.
Shorea slootenii Wood ex Ashton
Shorea smithiana Sym.
Shorea splendida (De Vriese) Ashton
Shorea stenoptera Burck
Shorea superba Sym.
Shorea xanthophylla Sym.
Upuna borneensisSym.
Vatica albiramis Sloot.
Vatica badiifolia Ashton
Vatica bantamensis (Hassk.) B.H. ex Miq.
Vatica cauliflora Ashton
Vatica chartacea Ashton
Vatica congesta Ashton
Vatica dulitensis Sym.
Vatica endertii Sloot.
Vatica flavovirens Sloot.
Vatica globosa Ashton
Vatica granulata Sloot.
Vatica micrantha Sloot.
Vatica oblongifolia Hook.f.
Vatica obovata Sloot.
Vatica pentandra Ashton
Vatica rotata Ashton
Vatica rynchocarpa Ashton
Vatica sarawakensis Heim
Vatica soepadmoi Ashton
Vatica teysmaniana Burck
Vatica vinosa Ashton