I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Habitus merupakan istilah biologi yang berarti tindakan naluriah (instinktif) hewan atau kecendeungan alamiah bentuk suatu tumbuhan. Habitus pohon merupakan bentuk kehidupan suatu golongan hewan atau tumbuhan, habitus adalah perawakan tumbuhan atau wujud bentuk fisik tumbuhan secara keseluruhan. Habitus juga dapat diartikan sebagai bentuk fisik tumbuhan Adapun habitus pohon atau perawakan pohon diartikan sebagai wujud bentuk fisik pohon secara keseluruhan, hal ini menggambarkan mengenai keseluruhan morfus dalam system organ pohon. Habitus pohon merupakan gambaran penampilan umum atau arsitektur suatu tumbuhan, sebagai contoh akasia yang berhabitus pohon. Salah satu contoh bentuk atau perawakan habitus pohon adalah bentuk pohon, ukuran pohon, tinggi pohon, bentuk tajuk pohon, bentuk kulit batang dan warna umum pohon.
B. Tujuan Praktikum
Adapun dalam praktikum tentang habitus pohon ini, mahasiswa yang melakukan pratikum diharapkan mampu untuk:
1. Mampu mengelompokkan phon ke dalam beberapa kategori ukuran pada saat pohon tersebut mencapai fase dewasa.
2. Mampu menentukan bentuk utama tajuk pohon dan tekstur pohon bagi setiap jenis pohon yang diamati.
C. Lokasi Praktikum
Praktikum mengenai habitus pohon dilakukan di depan camp rimbawan disudut lapangan tenis lapangan jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Lampung.
II. METODE PRAKTIKUM
A. Alat dan bahan
Alat-alat dan bahan yang diperlukan untuk praktikum habitus pohon ini adalah lembar pengamatan, buku gambar, pensil, pena, meteran, christen hyipsometer, dan kamera. Sedangkan bahan atau pohon yang digunakan meliputi spesimen dari Akasia (Acacia auriculiformis).
B. Cara Kerja
Prosedur yang digunakan dalam praktikum tentang habitu pohon adalah sebagai berikut:
1. Mencari pohon yang sudah ditentukan.
2. Mengambil gambar pohon tersebut secara penuh dengan kamera.
3. Mengukur tinggi pohon dengan christen hyipsometer, dan menetapkan klas ukuran pohon. Dan menggunakan alat bantu berupa galah atau tongkat yang panjangnya 2 m atau 3 m.
4. Meletakkan galah pembantu pada pohon yang akan diukur tinggi, kemudian memegang christen hyipsometer pada posisi vertical dengan angka nol pada skala alat berada skala alat berada pada bagian atas. Membidik pangkal batang pohon dan membidik ujung pohon atau tajuk pohon dengan menggunakan christen hyipsometer.
5. Menggambar engan pensil pada buku gambar mengenai bentuk tajuk pohon yang diamati.
6. Mengamati pohon mengenai tekstur dan warna pohon kemudian mencatat hasilnya pada lembar pengamatan.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil pengamatan
Dari pratikum mengenai habitus pohon diperoleh data hasil pengamatan sebagai berikut.
Tabel 1. Data pengamatan kategoi ukuran pohon, bentuk tajuk pohon, tekstur pohon,dan warna pohon.
No | Jenis pohon | Ukuran pohon | Bentuk tajuk pohon | Tekstur pohon | Warna pohon |
1 | Akasia (Acacia auriculiformis) | Sedang | Tidak beraturan | kasar | Hijau kekuningan |
Gambar 1. Bentuk batang pohon akasia (Acacia auriculiformis)
Gambar 2. Bentuk peenuh badan pohon dan tajuk pohon akasia (Acacia
auriculiformis)
B. Pembahasan
Dari pratikum yang dilakukan dapat diperoleh hasil seperti pada data di atas, pada pratikum ini pohon akasia yang letaknya di sudut lapangan tenis lapangan. Untuk ukuran keliling pohon yang diamati sangat besar dan ukuran kelilingnya 204 cm, pengukuran kelilig ini menggunakan pita meter kemudian dirubah menjadi diameter rumusnya adalah
=
=
= 26 cm, jadi
pohon akasia adalah 26 cm, dan umur pohon akasia yang diamati sudah sangat tua dengan melihat diameter dan bentuk tajuknya. Bentuk tajuk pohon tidak beraturan ini dikarenakan usia ohon yang sudah terlalu tua sehingga pada pecabangannya banyak yang sudah mati dan kering shingga bentuk tajuknya sudah tidak terlihat jelas atau tidak beraturan seperti halnya tajuk pohon akasia yang masih muda. Tekstur pohon yang dilihat dari pangkal banir sampai ujung tajuk yang namanya kanopi bertekstu kasar yang paling terlihat kasarnya adalah pada bagian kulit batang yang seperti terbelah – belah, untuk warna pohon yang diamati berwarna hijau kekuningan, dan tinggi pohon akasia yang damati yaitu 14 meter, pohon ini termasuk pohon sedang yaitu pohon – pohon yang pada fase dewasanya setinggi 9,144 m – 18,288 m atau 30 feat. Pengukuran tinggi pohon menggunakan alat yang namanya christen hyipsometer 3 meter dan menggunakan alat bantu yaitu galah, tapi pada pengamatan ini galah diganti dengan plastic yang diikat pada pohon setinggi 3 meter dari atas banir tujuannya untuk melihat skala yang didapat dari pengukuran menggunakan christen hyipsometer.
Pada lembar laporan sementara ada kesalahan data yang pertama untuk diameter kalau pada laporan sementara diameternya 204 cm, padahan 26 cm pada laporan sementara 204 cm itu masih keliling pohon dan belum dibagi dengan 3,14 yang akan dirubah menjadi diameter, yang kedua ukuran pohon pada laporan sementara ukuran pohonnya besar padahal ketika dibandingkan dengan buku panduan pratikum fase pohon yang diamati termasuk fase pohon sedang dengan diameter 26 cm dan tinggi 14 meter.
Keterangan gambar 1. Yaitu gambar yang diambil dari kamera yaitu gambar bentuk dan kondisi batang pohon akasia (Acacia auriculiformis), terlihat jelas pada bagian kulit batang pohon akasia (Acacia auriculiformis) yang kasar dan terlihat seperti terbelah – belah, dan juga pada bagian percabangan paling bawah sudah terdapat tunas – tunas ranting yang banyak dan rapat, ini dikarenakan pada cabang paling bawa cabangnya sudah mati sehingga pada bagian pangkal cabang yang masih hidup tumbuh ranting – ranting baru dan terlihat subur. Untuk bentuk badan pohon yang terlihat pada gambar 2. Pohon akasia ini cukup tinggi hingga mencapai 14 meter dan sedikit condong kekanan, bentuk tajuknya pada gambar terlihat elips tapi ketika pengamatan tajuknya tidak beraturan dan hanya pada bagian atas pohon yang masih sedikit berbentuk tajuknya, tetap pada umumnya pohon yang diamati tajuknya tidak jelas.
Dan warnanya terlihat berwarna hijau, tetapi ketika melakukan pengamatan warnanya sedikit kekuningan atau berwarna hijau kekuningan.
IV. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1. Pohon yang diamati memiliki ukuran poho yang sedang atau berdiameter 26 cm, memiliki ukuran yang sedang karena pohon ini sudah berumur tua.
2. Tajuk pohon akasia yang diamati bentuknya tudak beraturan, karena pohon akasia yang diamati sudah terlalu tua dan banyak percabangan – percabangan yang sudah mati dan kerng sehingga bentuk tajuknya sudah tidak terlihat jelas atau tudak beraturan.
B. Saran
Untuk saran pada pratikum kali ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk pratikan diharapkan lebih kondusip dalam mengikuti pratikum.
DAFTAR PUSTAKA
Indriyanto, 1998, Panduan Pratikum Dendrologi, Bandar Lampung,universitas
Lampung
Samingan,Tj.1982.Dendrologi.Jakarta:Gramedia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar